Mendorong Desa Inklusif: SHG Ketangga Jeraeng dan Selebung Ketangga Petakan Aspirasi dalam Musrenbang Tematik Disabilitas

Lombok Timur, 6 Agustus 2026 – Upaya mewujudkan pembangunan desa yang ramah dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat terus digalakkan. Berempat di Kantor Desa Ketangga Jeraeng, LIDI Foundation bersama kelompok swadaya masyarakat (Self-Help Group/SHG) menyelenggarakan Musrenbang Tematik Desa. Forum ini menjadi ruang strategis bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan untuk menyuarakan aspirasi, merumuskan kebutuhan, dan mendorong penganggaran desa yang inklusif.

Kegiatan yang dihadiri oleh 30 peserta—terdiri dari kelompok disabilitas, caregiver, kader kesehatan, hingga jajaran Pemerintah Desa dan BPD—menjadi bukti nyata partisipasi aktif warga dalam perencanaan pembangunan desa.

Musrenbang Tematik ini dibuka dengan diskusi bermakna yang dipandu oleh Azhari Zaini (MEL LIDI Foundation). PJ Kepala Desa Ketangga Jeraeng, Angga Rofi’i, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif ini. Dalam pemaparannya, beliau mengakui bahwa alokasi anggaran APBDes sebelumnya belum secara spesifik menyentuh kebutuhan penyandang disabilitas. Sebagai wujud kepedulian nyata, Pemerintah Desa menegaskan komitmennya untuk mengalokasikan hingga 9% anggaran APBDes berikutnya untuk program dan kebutuhan disabilitas.

“Ke depannya saya berkomitmen mengalokasikan anggaran sebesar 9% bagi program dan kebutuhan teman-teman disabilitas. Kita harapkan penyandang disabilitas memiliki kegiatan ekonomi yang produktif dan mendapat akses lapangan pekerjaan yang setara,” ujar Angga Rofi’i.

Sekretaris Desa Ketangga Jeraeng, Imran, bersama perwakilan BPD juga menyampaikan dukungan penuh terhadap program-program produktif yang telah berjalan dan berkomitmen untuk mengawal usulan ini hingga ke tingkatan Musrenbangdes dan penyusunan RPJMDes.

Dalam sesi diskusi kelompok, peserta dibagi berdasarkan wilayahnya—Desa Ketangga Jeraeng dan Desa Selebung Ketangga—untuk memetakan kebutuhan prioritas secara partisipatif yang difasilitasi oleh Lalu Khusni Ansori.

SHG Ketangga Jeraeng memfokuskan usulannya pada penguatan usaha ekonomi produktif yang dikelola oleh anggota disabilitas fisik, antara lain:

  1. Budidaya Ikan Air Tawar: Pengembangan modal usaha dan pakan untuk 5.000 ekor ikan.
  2. Usaha Terasi UMKM: Penguatan modal produksi terasi.
  3. Pengadaan Kontainer Besi UMKM: Penyediaan 3 unit kontainer jualan ramah disabilitas.
  4. Produksi Pupuk Organik Padat: Optimalisasi operasional pengolahan pupuk organik.

 

Sementara itu, SHG Selebung Ketangga merumuskan usulan yang mencakup aspek ekonomi, perlindungan sosial, dan aksesibilitas fisik:

  1. Peternakan Inklusif: Pengadaan ternak kambing dan unggas (ayam/bebek) yang juga melibatkan caregiver (pendamping) disabilitas.
  2. Pelatihan Kewirausahaan: Pelatihan pemasaran digital dan pembuatan kue.
  3. Jaminan Sosial: Pengusulan pemerataan bantuan sosial (PKH/BLT) dan BPJS PBI bagi penyandang disabilitas dan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK/ODDP).
  4. Infrastruktur Inklusif: Rehabilitasi tangga fasilitas umum desa agar aksesibel bagi pengguna disabilitas.

 

Fasilitator dan tim LIDI Foundation menekankan pentingnya kelengkapan data pendukung, Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan analisis kelayakan usaha agar usulan ini semakin kuat saat dibawa ke RKPDes.

Sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL), hasil perumusan dari tingkat desa ini disepakati bersama dan dituangkan dalam berita acara resmi. Perwakilan SHG bersama LIDI Foundation siap membawa daftar usulan ini ke Musrenbang Tematik Tingkat Kabupaten Lombok Timur untuk berdialog langsung dengan Bupati dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta melakukan kunjungan ke BLUD untuk pengembangan kemasan dan pemasaran produk UMKM disabilitas.

Melalui Musrenbang Tematik ini, LIDI Foundation berharap sinergi antara masyarakat disabilitas, pemerintah desa, dan pemerintah daerah dapat terus terjalin demi mewujudkan pembangunan yang “Tidak Ada Satupun yang Tertinggal”