Hak Disabilitas Terhimpit Kepentingan Lain Yang Dianggap Lebih Mendesak

Oleh: Lalu Wisnu Pradipta

Perjuangan untuk menyuarakan hak-hak penyandang disabilitas di negeri ini ibarat langkah sekelompok siput kecil yang mencoba menyeberangi jalan raya. Pelan, berhati-hati, dan sering kali hampir terlindas oleh kendaraan besar bernama “prioritas pembangunan”.

Kita hidup di tengah riuhnya pesta pora hak-hak manusia. Hak perempuan, hak anak, hak petani, hak pekerja, semuanya mendapat panggung dan perhatian luas. Tetapi di tengah kegaduhan itu, ada satu kelompok yang suaranya nyaris tak terdengar : penyandang disabilitas.

Mereka bukan tidak bersuara. Mereka berbicara, berjuang, dan menyampaikan aspirasi. Hanya saja suara mereka sering kalah kuat dari mikrofon-mikrofon besar yang berbicara tentang kepentingan lain yang dianggap lebih mendesak. Dalam banyak ruang publik, isu disabilitas masih dipandang sebagai pelengkap, bukan prioritas.

 

Antara Kebijakan dan Kenyataan

Secara formal, Indonesia sudah memiliki berbagai regulasi yang menjamin hak penyandang disabilitas. Ada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, ada perda-perda inklusi di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat.

Namun, di tingkat implementasi, roda kebijakan itu berjalan sangat lambat.
Sekolah inklusi memang ada, tapi guru pendamping khusus masih langka. Gedung pemerintahan sudah memiliki jalur kursi roda, namun pelayanan publik sering kali masih menolak dengan alasan “tidak ada fasilitas”.

Kita bicara inklusi di seminar-seminar besar, tapi di lapangan, masih banyak anak disabilitas yang tidak tercatat dalam data kependudukan desa. Banyak keluarga yang memilih menyembunyikan anaknya karena stigma masih melekat kuat. Itulah realitas yang membuat perjuangan hak-hak disabilitas seperti perjalanan panjang yang tak berujung.

 

Mereka yang Terus Menyala

Namun, di balik semua kelambatan itu, selalu ada orang-orang yang tidak menyerah.
Mereka adalah pendamping lapangan, aktivis, guru, dan kader disabilitas yang setiap hari bergerak senyap, mengantar anak-anak ke sekolah, menemui aparat desa, menjelaskan arti inklusi kepada masyarakat, dan menyusun data agar mereka yang tidak terlihat menjadi terlihat.

Mereka tidak mendapat sorotan media, tidak selalu disebut dalam laporan proyek, tapi dari tangan-tangan merekalah perubahan itu perlahan tumbuh.
Mereka percaya, perubahan sosial bukan hasil dari kebijakan besar semata, tetapi dari kehadiran yang tulus dan konsisten di tengah komunitas.

 

Menutup dengan Harapan

Perjuangan penyandang disabilitas memang masih lambat. Namun seperti siput, mereka tetap bergerak. Perlahan, tapi pasti. Setiap langkah kecil yang mereka tempuh adalah bentuk keberanian untuk menembus tembok ketidakpedulian.

Mungkin dunia belum sepenuhnya mendengar, tetapi suara itu akan terus bergema — dari ruang kelas sederhana di pelosok desa, dari forum-forum inklusi di tingkat kabupaten, hingga di hati mereka yang percaya bahwa kesetaraan bukan belas kasihan, melainkan hak yang seharusnya diperjuangkan bersama.

Karena sejatinya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya seberapa cepat ia berlari, tetapi seberapa sabar ia menuntun mereka yang tertinggal untuk ikut berjalan bersama.